Our social:

Debus, Budaya Banten yang terabaikan.

from Flickr

Pernah mendengar kata Debus, saya yakin hampir semua orang pernah mendengar bahkan mungkin ada yang pernah menyaksikan kesenian itu, kesenian yang sekaligus merupakan budaya Banten tersebut lambat laun telah di tinggalkan, saya berani bertaruh generasi saya bahkan generasi di bawah saya yang asli pribumipun banyak yang hanya mendengar tanpa pernah menyaksikan sendiri kesenian tersebut. Saya pribadi pun hanya pernah menyaksikan secara langsung 2 kali itupun saat masih belia.
Debus merupakan kesenian bela diri dari Banten. Kesenian ini diciptakan pada abad ke-16, pada masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanuddin (1532-1570). Debus, suatu kesenian yang mempertunjukan kemampuan manusia yang luar biasa, kebal senjata tajam, kebal api, minum air keras, memasukan benda kedalam kelapa utuh, menggoreng telur di kepala dan lain-lain. ( Wikipedia )
Dahulu kesenian ini sering dimainkan saat acara-acara keresidenan, bahkan tidak jarang debus sering menjadi hiburan pada saat pemilihan kepala desa, hajatan di kampung-kampung dsb.

Kesenian yang identik dengan silat dan sering memamerkan kekebalan tubuh ini memang semakin sulit kita temukan, mungkin karena sedikitnya minat pemuda banten untuk menjadi seorang pendekar Debus, ditambah jarangnya pertunjukan debus ini dimainkan di suatu event tertentu, sehingga mereka para pendekar debus enggan untuk menekuni profesi ini.

Bagaimanapun Debus adalah seautu kesenian dan Budaya Banten yang harus tetap kita jaga dan lestarikan, jangan sampai kesenian ini jatuh dan diaku oleh Negara tetangga kita.

Advertisment