Our social:

Latest Post

Showing posts with label global issue. Show all posts
Showing posts with label global issue. Show all posts

Gunung Krakatau / Krakatoa

Gunung Krakatau



Baca koran elecktronik terdapat berita mengenai pemutaran film tentang gunung krakatau berjudul, Krakatoa the last days, merasa sudah pernah melihat film tentang gunung krakatau
di salah satu stasiun swasta dulu banget jadi penasaran pengen melihat dan mencari ulasanya, dan ternyata film ini beda dengan film yang pernah saya tonton itu. film yang pernah saya tonton adalah Krakatoa, East of Java Drama, Amerika Serikat, 1969, Sutradara: Bernard Kowalski.
sedangkan film terbaru tentang krakatau ini adalah Krakatoa. The Last Days, Dokudrama, Britania Raya, 2006, 87 Min., Sutradara: Sam Miller, Produksi BBC
yups sekalian saja diulas tentang beberapa sejarah mengenai gunung krakatau dan letusannya.

Krakatau terletak di selat sunda yang memisahkan pulau jawa dan pulau sumatera krakatau adalah kepulauan vulkanik yang masih aktif dan berada di Selat Sunda antara pulau Jawa dan Sumatra. Nama ini pernah disematkan pada satu puncak gunung berapi di sana (Gunung Krakatau) yang sirna karena letusannya sendiri pada tanggal 26-27 Agustus 1883. Letusan itu sangat dahsyat; awan panas dan tsunami yang diakibatkannya menewaskan sekitar 36.000 jiwa. Sampai sebelum tanggal 26 Desember 2004, tsunami ini adalah yang terdahsyat di kawasan Samudera Hindia. Suara letusan itu terdengar sampai di Alice Springs, Australia dan Pulau Rodrigues dekat Afrika, 4.653 kilometer. Daya ledaknya diperkirakan mencapai 30.000 kali bom atom yang diledakkan di Hiroshima dan Nagasaki di akhir Perang Dunia II.
Selat Sunda

Letusan Gunung Krakatau


Letusan Krakatau menyebabkan perubahan iklim global. Dunia sempat gelap selama dua setengah hari akibat debu vulkanis yang menutupi atmosfer. Matahari bersinar redup sampai setahun berikutnya. Hamburan debu tampak di langit Norwegia hingga New York.

Ledakan Krakatau ini sebenarnya masih kalah dibandingkan dengan letusan Gunung Toba dan Gunung Tambora di Indonesia, Gunung Tanpo di Selandia Baru dan Gunung Katmal di Alaska. Namun gunung-gunung tersebut meletus jauh di masa populasi manusia masih sangat sedikit. Sementara ketika Gunung Krakatau meletus, populasi manusia sudah cukup padat, sains dan teknologi telah berkembang, telegraf sudah ditemukan, dan kabel bawah laut sudah dipasang. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa saat itu teknologi informasi sedang tumbuh dan berkembang pesat.

Tercatat bahwa letusan Gunung Krakatau adalah bencana besar pertama di dunia setelah penemuan telegraf bawah laut. Kemajuan tersebut, sayangnya belum diimbangi dengan kemajuan di bidang geologi. Para ahli geologi saat itu bahkan belum mampu memberikan penjelasan mengenai letusan tersebut.

Melihat kawasan Gunung Krakatau di Selat Sunda, para ahli memperkirakan bahwa pada masa purba terdapat gunung yang sangat besar di Selat Sunda yang akhirnya meletus dahsyat yang menyisakan sebuah kaldera (kawah besar) yang disebut Gunung Krakatau Purba, yang merupakan induk dari Gunung Krakatau yang meletus pada 1883. Gunung ini disusun dari bebatuan andesitik.

Catatan mengenai letusan Krakatau Purba yang diambil dari sebuah teks Jawa Kuno yang berjudul Pustaka Raja Parwa yang diperkirakan berasal dari tahun 416 Masehi. Isinya antara lain menyatakan:
“ Ada suara guntur yang menggelegar berasal dari Gunung Batuwara. Ada pula goncangan bumi yang menakutkan, kegelapan total, petir dan kilat. Kemudian datanglah badai angin dan hujan yang mengerikan dan seluruh badai menggelapkan seluruh dunia. Sebuah banjir besar datang dari Gunung Batuwara dan mengalir ke timur menuju Gunung Kamula.... Ketika air menenggelamkannya, pulau Jawa terpisah menjadi dua, menciptakan pulau Sumatera ”

Pakar geologi Berend George Escher dan beberapa ahli lainnya berpendapat bahwa kejadian alam yang diceritakan berasal dari Gunung Krakatau Purba, yang dalam teks tersebut disebut Gunung Batuwara. Menurut buku Pustaka Raja Parwa tersebut, tinggi Krakatau Purba ini mencapai 2.000 meter di atas permukaan laut, dan lingkaran pantainya mencapai 11 kilometer.


Pasca Ledakan Gunung Krakatau

Akibat ledakan yang hebat itu, tiga perempat tubuh Krakatau Purba hancur menyisakan kaldera (kawah besar) di Selat Sunda. Sisi-sisi atau tepi kawahnya dikenal sebagai Pulau Rakata, Pulau Panjang dan Pulau Sertung, dalam catatan lain disebut sebagai Pulau Rakata, Pulau Rakata Kecil dan Pulau Sertung. Letusan gunung ini disinyalir bertanggung- jawab atas terjadinya abad kegelapan di muka bumi. Penyakit sampar bubonic terjadi karena temperatur mendingin. Sampar ini secara signifikan mengurangi jumlah penduduk di muka bumi.

Letusan ini juga dianggap turut andil atas berakhirnya masa kejayaan Persia purba, transmutasi Kerajaan Romawi ke Kerajaan Byzantium, berakhirnya peradaban Arabia Selatan, punahnya kota besar Maya, Tikal dan jatuhnya peradaban Nazca di Amerika Selatan yang penuh teka-teki. Ledakan Krakatau Purba diperkirakan berlangsung selama 10 hari dengan perkiraan kecepatan muntahan massa mencapai 1 juta ton per detik. Ledakan tersebut telah membentuk perisai atmosfer setebal 20-150 meter, menurunkan temperatur sebesar 5-10 derajat selama 10-20 tahun.
[sunting] Munculnya Gunung Krakatau
Perkembangan Gunung Krakatau

Pulau Rakata, yang merupakan satu dari tiga pulau sisa Gunung Krakatau Purba kemudian tumbuh sesuai dengan dorongan vulkanik dari dalam perut bumi yang dikenal sebagai Gunung Krakatau (atau Gunung Rakata) yang terbuat dari batuan basaltik. Kemudian, dua gunung api muncul dari tengah kawah, bernama Gunung Danan dan Gunung Perbuwatan yang kemudian menyatu dengan Gunung Rakata yang muncul terlebih dahulu. Persatuan ketiga gunung api inilah yang disebut Gunung Krakatau.

Gunung Krakatau pernah meletus pada tahun 1680 menghasilkan lava andesitik asam. Lalu pada tahun 1880, Gunung Perbuwatan aktif mengeluarkan lava meskipun tidak meletus. Setelah masa itu, tidak ada lagi aktivitas vulkanis di Krakatau hingga 20 Mei 1883. Pada hari itu, setelah 200 tahun tertidur, terjadi ledakan kecil pada Gunung Krakatau. Itulah tanda-tanda awal bakal terjadinya letusan dahsyat di Selat Sunda. Ledakan kecil ini kemudian disusul dengan letusan-letusan kecil yang puncaknya terjadi pada 26-27 Agustus 1883.
[sunting] Erupsi 1883
Sebuah litografi yang dibuat pada tahun 1888 yang menggambarkan Gunung Krakatau pada kejadian Erupsi 1883.

Pada hari Senin, 27 Agustus 1883, tepat jam 10.20, meledaklah gunung itu. Menurut Simon Winchester, ahli geologi lulusan Universitas Oxford Inggris yang juga penulis National Geographic mengatakan bahwa ledakan itu adalah yang paling besar, suara paling keras dan peristiwa vulkanik yang paling meluluhlantakkan dalam sejarah manusia modern. Suara letusannya terdengar sampai 4.600 km dari pusat letusan dan bahkan dapat didengar oleh 1/8 penduduk bumi saat itu.

Menurut para peneliti di University of North Dakota, ledakan Krakatau bersama ledakan Tambora (1815) mencatatkan nilai Volcanic Explosivity Index (VEI) terbesar dalam sejarah modern. The Guiness Book of Records mencatat ledakan Krakatau sebagai ledakan yang paling hebat yang terekam dalam sejarah.

Ledakan Krakatau telah melemparkan batu-batu apung dan abu vulkanik dengan volume 18 kilometer kubik. Semburan debu vulkanisnya mencavai 80 km. Benda-benda keras yang berhamburan ke udara itu jatuh di dataran pulau Jawa dan Sumatera bahkan sampai ke Sri Lanka, India, Pakistan, Australia dan Selandia Baru.

Letusan itu menghancurkan Gunung Danan, Gunung Perbuwatan serta sebagian Gunung Rakata dimana setengah kerucutnya hilang, membuat cekungan selebar 7 km dan sedalam 250 meter. Gelombang laut naik setinggi 40 meter menghancurkan desa-desa dan apa saja yang berada di pesisir pantai. Tsunami ini timbul bukan hanya karena letusan tetapi juga longsoran bawah laut.

Tercatat jumlah korban yang tewas mencapai 36.417 orang berasal dari 295 kampung kawasan pantai mulai dari Merak (Serang) hingga Cilamaya di Karawang, pantai barat Banten hingga Tanjung Layar di Pulau Panaitan (Ujung Kulon serta Sumatera Bagian selatan. Di Ujungkulon, air bah masuk sampai 15 km ke arah barat. Keesokan harinya sampai beberapa hari kemudian, penduduk Jakarta dan Lampung pedalaman tidak lagi melihat matahari. Gelombang Tsunami yang ditimbulkan bahkan merambat hingga ke pantai Hawaii, pantai barat Amerika Tengah dan Semenanjung Arab yang jauhnya 7 ribu kilometer.
[sunting] Anak Krakatau
Anak Krakatau, dua tahun sejak awal terbentuknya. Foto diambil 12 atau 13 Mei 1929, koleksi Tropenmuseum.

Mulai pada tahun 1927 atau kurang lebih 40 tahun setelah meletusnya Gunung Krakatau, muncul gunung api yang dikenal sebagai Anak Krakatau dari kawasan kaldera purba tersebut yang masih aktif dan tetap bertambah tingginya. Kecepatan pertumbuhan tingginya sekitar 20 inci per bulan. Setiap tahun ia menjadi lebih tinggi sekitar 20 kaki dan lebih lebar 40 kaki. Catatan lain menyebutkan penambahan tinggi sekitar 4 cm per tahun dan jika dihitung, maka dalam waktu 25 tahun penambahan tinggi anak Rakata mencapai 7.500 inci atau 500 kaki lebih tinggi dari 25 tahun sebelumnya. Penyebab tingginya gunung itu disebabkan oleh material yang keluar dari perut gunung baru itu. Saat ini ketinggian Anak Krakatau mencapai sekitar 230 meter di atas permukaan laut, sementara Gunung Krakatau sebelumnya memiliki tinggi 813 meter dari permukaan laut.


Prediksi Letusan Gunung Anak Krakatau

Menurut Simon Winchester, sekalipun apa yang terjadi dalam kehidupan Krakatau yang dulu sangat menakutkan, realita-realita geologi, seismik serta tektonik di Jawa dan Sumatera yang aneh akan memastikan bahwa apa yang dulu terjadi pada suatu ketika akan terjadi kembali. Tak ada yang tahu pasti kapan Anak Krakatau akan meletus. Beberapa ahli geologi memprediksi letusan in bakal terjadi antara 2015-2083. Namun pengaruh dari gempa di dasar Samudera Hindia pada 26 Desember 2004 juga tidak bisa diabaikan.
Anak Krakatau, Februari 2008

Menurut Profesor Ueda Nakayama salah seorang ahli gunung api berkebangsaan Jepang, Anak Krakatau masih relatif aman meski aktif dan sering ada letusan kecil, hanya ada saat-saat tertentu para turis dilarang mendekati kawasan ini karena bahaya lava pijar yang dimuntahkan gunung api ini. Para pakar lain menyatakan tidak ada teori yang masuk akal tentang Anak Krakatau yang akan kembali meletus. Kalaupun ada minimal 3 abad lagi atau sesudah 2325 M. Namun yang jelas, angka korban yang ditimbulkan lebih dahsyat dari letusan sebelumnya.

Letusan yang sangat dahsyat dan tragedi kemanusiaan yang menyedihkan semoga di kemudian hari tidak terjadi letusan se-dahsyat itu, atau minimal para ahli dan pemerintah sudah mengantisipasi bahayanya.. semoga..


Credit: http://id.wikipedia.org

Israel Mendirikan Perusahaan Ritel di Serang – Banten

Carrefour Perusahaan Ritel asal Prancis membuka cabang / gerai baru di Serang, tepatnya di simpang empat Ciceri Serang.

Carrefour merupakan perusahaan ritel terbesar kedua di dunia, sebagian besar sahamnya dimiliki oleh Blue Capital yang menguasai 14% saham dan sekarang pemegang saham terbesar kedua adalah seorang milyarder Israel Nochi Danker.

Danker melalui Koor industries menambah kepemilikan sahamnya dari 0,25% menjadi 3,25% dengan menggelontorkan dan sebesar US$ 886 Juta.
Meski hanya 3,25% kepemilikan saham Danker dengan Koor Industriesnya menjadi pemegang saham terbesar kedua setelah Blue Capital.

Terlepas dari sentimen anti-Israel masuknya israel di tubuh Carrefour dipastikan Carrefour akan lebih agresif melakukan penetrasi terutama ke daerah Asia Pacifik.
Dan dampaknya bagi Indonesia di khawatirkan Carrefour akan menghancurkan pasar tradisional sebagai predatoris yang membuat pasar-pasar kecil dan pasar-pasar tradisional kehilangan daya saing.

Berikut kutipan dari pakar pemasaran Rhenald Khasali

"Masuknya Israel di Carrefour dapat dilihat sebagai ancaman bagi pedagang kecil dan pasar tradisional. Sebab, masuknya Israel akan menambah besar kemampuan Carrefour untuk ekspansi usaha, termasuk ke Indonesia, sehingga bisa mengancam kelangsungan usaha kecil dan pasar tradisional," ujar pakar pemasaran Rhenald Kasali, di Jakarta, Kamis (25/6).


Untuk itu, Rhenald mengingatkan pemerintah untuk menyikapi perubahan di Carrefour tersebut, dan mewaspadai langkah bisnis peritel asal Prancis di Indonesia di masa mendatang. "Perubahan ini harus disikapi pemerintah dengan melindungi pedagang kecil dan pasar tradisional, sebagai antisipasi gencarnya ekspansi usaha Carrefour agar tidak predatoris," jelasnya.

Benarkah Orang Banten suka Poligami

Benarkah Orang Banten itu sering kawin (poligami)


Sebelumnya mohon maaf, tulisan ini bukan bermaksud mempromosikan Poligami (jereh wong banten e meh Wayuh) atau meng-generalisasikan bahwa semua orang Banten berprilaku seperti itu.
Dan untuk para wanita jangan khawatir karena tidak semua lelaki Banten melakukan hal tersebut. Masih banyak yang setia hanya dengan satu pasangan, bener ga kang?

Tulisan ini dibuat berdasarkan pengalaman saya ketika beberapa tahun yang lalu bertamu kerumah temen wanita saya yang pada waktu itu saya suka sama dia (cieeeh, pedekate nih ceritanya, jadi curcol).
Dan pengalaman saya ini jauh sebelum maraknya perdebatan tentang Poligami yang salah satunya karena ada Da’i kondang yang melakukan hal tersebut.

Ceritanya begini, waktu itu sehabis jalan, saya mengantarkan dia pulang, kebetulan ayah temen saya tersebut ada dirumah. Akhirnya mau ga mau saya ngobrol dengan beliau. Setelah ngobrol kesana-kemari beliau bertanya asal saya, dan diluar dugaan ketika saya jawab dari Serang Banten.
Beliau terus berkata bahwa pernah ke Serang dan Pandeglang, dan punya beberapa temen dan kenalan orang sana.
Oh iya Bapak ini adalah orang Jawa tengah.
Dan yang paling mengejutkan beliau berkata dengan nada bertanya;

“ katanya orang Serang itu suka kawin yah, punya istri lebih dari satu?”

Bisa kebayangkan, gimana perasaan saya waktu itu yang notabene suka ama anaknya?
Wis sebisa mungkin saya harus pake alasan yang kuat untuk membuktikan bahwa tidak semuanya seperti itu.

Memang pendapat tersebut ada benarnya juga dikarenakan di lingkungan tempat tinggal saya pun ada yang mempunyai istri lebih dari satu, termasuk dua orang teman kerja saya, bahkan ada seorang tukang becakpun memiliki dua istri, tapi kalau di bilang orang Serang suka kawin itu berarti menggeneralisasikan bahwa semua atau sebagian besar orang Serang-Banten berprilaku seperti itu. Padahal hanya segelintir orang saja yang seperti itu yah mungkin karena orang banten cenderung melakukan dengan terang-terangan bandingkan dengan orang jakarta misalnya kebanyakan dari mereka melakukan hal tersebut secara sembunyi-sembunyi ( istri simpanan ) tidak sepengetahuan istri pertama, awalnya kebanyakan dari merekapun sembunyi-sembunyi setelah ketahuan istri pertama banyak yang akhirnya menceraikan istri mudanya tersebut dan tidak sedikit juga yang tetap mempertahankan ke-duanya dan anehnya mereka kedua istrinya akrab dan tidak saling bermusuhan.

Begitulah, benar tidaknya hal tersebut sayapun tidak tahu..

Jadi benarkah orang Banten senang berpoligami?

Merdeka atau Mati, sudahkah Kita Merdeka?

Merdeka atau Mati bukan hanya slogan dan simbol semata, kata-kata itu adalah sebuah motivasi dan semangat untuk berjuang, secara mendalam Merdeka atau Mati merupakan sebuah klausa yang mengandung arti bahwa kita dihadapkan pada sebuah kenyataan yang terdesak sehingga mengharuskan kita untuk memilih.
Didalam kenyataan sehari-hari orang yang terdesak dan terpojok akan melakukan apapun, termasuk mengorbankan jiwa dan raga.

64 tahun yang lalu kata-kata tersebut sering terdengar dan tertulis di hampir setiap tembok, untuk memberi semangat sekaligus harapan, sekarang sudah 64 tahun kita terbebas dari penjajahan.

Tapi, benarkah kita sudah merdeka?

Sulit untuk menjawabnya..

Bila definisi Merdeka adalah jaminan atas dasar-dasar hidup dan terbuka luasnya pilihan hidup, terbebas dari penindasan, rasa takut, tekanan sosial, ekonomi dsb.

dan menurut Wikipedia:
Kemerdekaan adalah: saat di mana sebuah negara meraih hak kendali penuh atas seluruh wilayah bagian negaranya.

Bisakah disebut merdeka bila hampir semua kebijakan kita selalu di
diboncengi agenda asing.

Apakah pantas disebut Merdeka
bila sebagian besar kekayaan kita dimilik asing, bahkan beberapa BUMN strategis kita sebagian dikuasai asing.

Didalam negri, kita lihat para pengusaha lokal gulung tikar, karena tidak mampu bersaing akibat doktrin pasar bebas yang sebenarnya lebih menguntungkan negara maju, yang ironisnya mereka memproteksi produknya.

Benarkah kita Merdeka bila lahan-lahan tempat usaha mereka yang notabene masyrakat kecil harus terus tergusur, untuk berusaha menyambung hidup dengan berdagang harus selalu berhadapan dengan aparat Satpol PP, yang beberapa kali memakan korban.

Pasar-pasar tradisional tergusur oleh pasar-pasar modern yang bisa dengan mudah masuk ke desa-desa.

Salah satu ciri Merdeka adalah terbebas dari rasa takut,
Tapi rasa takut selalu menghantui para lulusan sekolah, yang tidak tahu harus kemana setelah lulus, biaya kuliah benar-benar membuat mereka takut, bahkan untuk bekerjapun mereka takut, kalau-kalau mereka tidak diterima karena sepengetahuan saya lowongan kerja tidak sebanding dengan jumlah pencari kerja, dan bila diterimapun mereka harus rela dengan gaji rata-rata dan karir yang tidak jelas,

Patutkah kita mempertanyakan: sebenarnya Kemerdekaan ini untuk siapa?
Untuk para pamong praja dan adipati-adipatikah (pemangku jabatan pemerintahan)?
Ataukah untuk kita semua.

Sebuah ironi, para punggawa kita sering berplesiran keluar negri dengan uang rakyat dengan alasan studi banding,
Meminta cendramata berupa emas murni di akhir jabatan yang menghabiskan uang negara milyaran, yang pada masa jabatanya tidak jelas prestasi apa yang telah diperbuat.
Belakangan terdengar kabar bahwa mereka menaikan anggaran tunjangan mereka sendiri.
Disisi lain tidak jauh dari mereka di kolong-kolong jembatan di Jakarta yang saya yakin pasti merekapun tahu, dan pernah melewati jalan tersebut dengan mobil mewah mereka yang dibiyayai negara, tetapi berpura-pura seolah-olah tidak tahu (semoga saya salah dengan pendapat ini), banyak anak-anak kecil mengemis, orang lanjut usia yang tidak memiliki tempat tinggal, mereka hidup dari mengumpulkan botol minuman bekas untuk dijual.
Sebuah ironi di negri yang konon mempunyai semberdaya alam yang melimpah.

Konstitusi menyebutkan bahwa “fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh Negara”,

Tetapi Negara mungkin terlalu sibuk dengan urusannya sendiri, sehingga mengabaikan warganya.

Ingat kisah seorang bocah yang bunuh diri karena malu belum membayar SPP Sekolah,
Ingat juga kisah orangtua meracuni anak dan istrinya kemudian dia bunuh diri.

Mungkin mereka lebih memilih Mati karena mereka tidak pernah bertemu dan merasakan Merdeka di negri yang konon telah 64 tahun melakukan perayaan kemerdekaan.

Apakah pelaku bom bunuh diri di kuningan juga memilih Mati karena mereka tidak merasakan kemerdekaan di negri ini.

Entahlah....


Selamat HUT Kemerdekaan RI...
Senyumlah Indonesiaku..

Merdeka....

Advertisment